Lonceng yang Berbunyi, tetapi Tidak Ada yang Mendengar

 

Renungan Pagi: Lonceng yang Berbunyi, tetapi Tidak Ada yang Mendengar
(Tentang Guru yang Hadir, tetapi Tidak Lagi Bertumbuh)
Oleh: Ust Ifan Syafiuddin, S.H.I (Pimpinan Pesantren Terpadu Al Mujaddid)
============
Setiap pagi, lonceng di sebuah pesantren berbunyi.
Teng teng...
Saatnya bangun.
Teng teng...
Saatnya menuju masjid.
Teng teng...
Saatnya belajar.
Teng teng...
Saatnya menjalankan amanah.
Bagi para santri, lonceng itu adalah tanda bahwa waktu bergerak dan mereka harus bergerak bersamanya.
Namun, di pesantren itu ada satu hal yang perlahan membuat sang pimpinan merasa gelisah.
Bukan karena loncengnya rusak.
Bukan pula karena tidak ada jadwal.
Semua sebenarnya berjalan.
Guru masuk kelas.
Pengasuh hadir di asrama.
Absensi terisi.
Jadwal piket terlaksana.
Rapat diadakan.
Laporan dibuat.
Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja.
Tetapi ada sesuatu yang perlahan hilang.
Jiwa dan ruh pendidikan .

Suatu hari seorang guru muda bertanya kepada seorang guru senior.
“Ustaz, bagaimana kita tahu bahwa tugas kita hari ini sudah selesai?”
Guru senior itu menjawab:
“Ya, kalau semua sudah sesuai jadwal. Masuk kelas, mengajar, absen. Selesai.”
Guru muda itu kembali bertanya:
“Kalau anak-anak belum berubah?”
Guru senior itu diam.
“Kalau mereka masih malas belajar?”
Diam.
“Kalau mereka membutuhkan sesuatu yang baru?”
Guru senior itu menjawab:
“Yang penting kita sudah menjalankan tugas. Tugas kita sudah selesai.”
Di situlah sebenarnya muncul masalah.
Guru itu mungkin hadir secara fisik.
Tetapi apakah ia benar-benar hadir sebagai pendidik?

Ketika Pendidikan Hanya Menjadi “Tabriah minadz-Dzimmah”
Ada sebuah keadaan yang kadang perlu kita renungkan bersama.
Seseorang masuk kelas.
Menyampaikan materi.
Menulis beberapa hal di papan.
Memberikan tugas.
Kemudian keluar.
Selesai.
Ketika anak-anak tidak berkembang, ia berkata:
“Saya sudah mengajar.”
Ketika anak-anak tidak memahami, ia berkata:
“Saya sudah menjelaskan.”
Ketika tidak ada perubahan, ia berkata:
“Yang penting saya sudah menjalankan tugas.”
Inilah yang berbahaya.
Ketika amanah pendidikan hanya dijalankan sebagai upaya:
“Yang penting kewajiban saya gugur.”
Bukan lagi:
“Bagaimana amanah ini benar-benar memberi manfaat?”
Tugas selesai.
Absensi lengkap.
Laporan masuk.
Tetapi pendidikan belum tentu terjadi.
Karena pekerjaan bisa selesai, tetapi amanah belum tentu tertunaikan.

Lonceng Tidak Berbunyi Agar Kita Sekadar Menandatangani Kehadiran
Lonceng berbunyi.
Guru datang.
Pengasuh hadir.
Tetapi kemudian apa?
Apakah kehadiran kita membawa perubahan?
Ataukah hanya menghasilkan tanda tangan di daftar absensi?
ABS (Asal Bapak Senang) memang dapat membuktikan bahwa:
kita ada di tempat.
Tetapi ABS tidak dapat membuktikan bahwa:
kita benar-benar hadir.
Seorang guru bisa berada di dalam kelas, tetapi pikirannya berada di tempat lain.
Seorang pengasuh bisa berada di lingkungan santri, tetapi tidak pernah benar-benar memahami anak-anak yang diasuhnya.
Seorang pembimbing bisa menjalankan jadwal, tetapi tidak pernah menjadi sumber inspirasi.
Ia hadir.
Tetapi tidak menghidupkan.
Ia menjalankan.
Tetapi tidak menggerakkan.
Ia mengajar.
Tetapi tidak menantang.
Ia menjaga.
Tetapi tidak membimbing.

Anak-Anak Tidak Hanya Membutuhkan Guru yang Datang
Mereka membutuhkan guru yang bertumbuh.
Sebab bagaimana mungkin kita berharap:
santri membaca lebih banyak,
jika gurunya tidak pernah membaca?
Bagaimana mungkin kita ingin:
santri memiliki wawasan luas,
jika pendidiknya merasa cukup dengan wawasan lama?
Bagaimana mungkin kita ingin:
santri berani mencoba,
jika gurunya sendiri takut belajar hal baru?
Bagaimana mungkin kita ingin:
santri kreatif,
jika setiap hari mereka hanya menerima cara yang sama?
Bagaimana mungkin kita ingin:
santri berkembang,
jika orang yang mendidiknya telah berhenti berkembang?
Pendidikan tidak mungkin melampaui kualitas kesadaran pendidiknya.
Karena itu seorang guru tidak boleh berkata:
“Saya sudah selesai belajar.”
Seorang pendidik justru harus mengatakan:
“Karena saya mendidik, maka saya harus terus belajar.”

Jangan Biarkan Santri Berlari Sendirian
Bayangkan seorang anak yang setiap hari diajarkan:
“Teruslah maju!”
Tetapi orang yang mengatakannya tidak pernah bergerak.
Bayangkan seorang santri diminta:
“Bacalah buku!”
Tetapi ia tidak pernah melihat gurunya membaca.
Ia diperintahkan:
“Berani mencoba!”
Tetapi setiap usulan baru selalu dijawab:
“Tidak usah macam-macam.”
Ia diminta:
“Berprestasilah!”
Tetapi tidak pernah diberi tantangan, ruang, fasilitas, pembinaan, dan teladan.
Akhirnya kita meminta anak-anak berlari, sementara kita sendiri memilih untuk tetap diam.
Pendidikan bukan hanya menyuruh orang lain naik.
Pendidikan adalah mengajak mereka naik bersama.

Guru dan Pengasuh Harus Menjadi “Lonceng Kehidupan”
Ada santri yang mungkin tidak berubah hanya dengan ceramah.
Tetapi ia berubah ketika melihat gurunya:
disiplin;
datang tepat waktu;
terus belajar;
rajin membaca;
menjaga lisannya;
mau meminta maaf;
berani mengakui kesalahan;
mampu belajar teknologi baru;
mencoba metode baru;
terus meningkatkan kualitas dirinya.
Karena sesungguhnya:
Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar.
Maka guru dan pengasuh bukan hanya orang yang mendengar lonceng.
Mereka juga harus menjadi orang yang membangunkan orang lain.
Tetapi bagaimana mungkin kita membangunkan orang lain jika kita sendiri telah tertidur dalam zona nyaman?

Tantangan Adalah Bagian dari Pendidikan
Anak-anak tidak tumbuh hanya dengan merasa nyaman.
Mereka perlu tantangan.
Tantangan untuk:
membaca buku yang belum pernah dibaca,
berbicara di depan umum,
menulis,
memimpin,
berdiskusi,
memecahkan masalah,
belajar teknologi,
berkarya,
berorganisasi,
berkompetisi,
gagal,
lalu mencoba kembali.
Tugas pendidik bukan sekadar memastikan anak:
“Tidak melakukan kesalahan.”
Tugas pendidik adalah membantu anak:
“Menemukan potensi yang belum pernah ia sadari.”
Kadang kita terlalu sibuk mengontrol agar anak tidak jatuh.
Padahal kita lupa mengajarkan mereka untuk berdiri.
Terlalu sibuk memastikan anak diam.
Padahal kita lupa memberikan ruang agar mereka berpikir.
Terlalu sibuk meminta anak menurut.
Padahal kita lupa mendidik mereka untuk bertanggung jawab.

Di Pesantren, Guru Bukan Sekadar Pengisi Jam Pelajaran
Pesantren memiliki keistimewaan.
Pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas.
Pendidikan terjadi:
di masjid,
di asrama,
di lapangan,
di perpustakaan,
di ruang makan,
dalam organisasi,
di perjalanan,
bahkan dalam cara seorang guru menghadapi masalah.
Maka guru dan pengasuh tidak bisa hanya berpikir:
“Jam mengajar saya sudah selesai.”
Karena dalam pesantren:
keteladanan sering kali lebih panjang daripada jam pelajaran.
Santri memperhatikan.
Mungkin mereka tidak mengatakannya.
Tetapi mereka melihat:
bagaimana guru berbicara,
bagaimana pengasuh menghadapi masalah,
bagaimana pemimpin memperlakukan bawahan,
bagaimana kita menjalankan amanah,
bagaimana kita meminta maaf,
dan apakah kita sendiri melakukan apa yang kita minta kepada mereka.

Lonceng Terbesar Kadang Berbunyi untuk Guru
Sering kali kita berpikir bahwa santri yang harus terus dibangunkan.
Padahal mungkin pagi ini lonceng sedang berbunyi untuk kita, para pendidik.
Ia berkata:
“Sudahkah engkau bertumbuh?”
“Apa yang baru engkau pelajari?”
“Apa yang lebih baik yang engkau lakukan dibanding tahun lalu?”
“Teladan apa yang engkau tinggalkan?”
“Santri seperti apa yang engkau coba bentuk?”
“Tantangan baru apa yang engkau berikan kepada mereka?”
“Apakah engkau hanya menjalankan jadwal atau benar-benar menjalankan misi pendidikan?”
Pertanyaannya:
Apakah kita mendengarnya?
Ataukah kita menjawab:
“Saya sudah lama menjadi guru. Saya sudah tahu.”
Justru ketika seorang pendidik merasa sudah selesai belajar, mungkin pada saat itulah pendidikan mulai kehilangan salah satu sumber kehidupannya.

Al-Mujaddid Membutuhkan Guru yang Terus Bertumbuh
Kita tidak sedang mencari guru yang sempurna.
Kita tidak sedang menuntut setiap pengasuh harus mampu melakukan segalanya.
Tidak.
Kita hanya tidak ingin terjebak pada budaya:
“Yang penting hadir.”
“Yang penting absen.”
“Yang penting masuk kelas.”
“Yang penting jadwal selesai.”
“Yang penting tugas gugur.”
Kita ingin tumbuh menuju budaya:
“Hari ini, apa yang bisa saya perbaiki?”
“Apa yang bisa saya pelajari?”
“Bagaimana saya dapat membantu anak-anak ini berkembang?”
“Teladan apa yang saya berikan hari ini?”
“Tantangan baru apa yang dapat saya berikan kepada mereka?”
Karena pesantren yang ingin berubah tidak cukup hanya memiliki santri yang mau belajar.
Ia harus memiliki:
Guru yang tidak berhenti menjadi pembelajar.

Renungan Untuk Kita Pagi Ini
Mungkin hari ini lonceng tidak sedang berbunyi untuk membangunkan santri.
Mungkin lonceng itu sedang berbunyi untuk membangunkan kita.
Para guru.
Para pengasuh.
Para pembimbing.
Para pemimpin.
Jangan sampai kita hanya:
datang,
absen,
menjalankan jadwal,
menyelesaikan tugas,
lalu merasa aman karena kewajiban telah selesai.
Karena seorang pendidik tidak cukup hanya bertanya:
“Apakah saya sudah hadir?”
Ia harus bertanya:
“Apakah kehadiran saya memberi kehidupan?”
Tidak cukup bertanya:
“Apakah tugas saya sudah selesai?”
Tetapi:
“Apa yang berubah menjadi lebih baik karena amanah saya?”
Tidak cukup berkata:
“Saya sudah mengajar.”
Tetapi bertanya:
“Apakah saya masih terus belajar?”

Lonceng itu masih berbunyi.
Bukan untuk sekadar memanggil kita ke tempat tugas.
Tetapi untuk membangunkan kesadaran.
Bahwa waktu terus bergerak.
Anak-anak terus bertumbuh.
Dunia terus berubah. Dan pendidikan tidak boleh berhenti.
Jika anak-anak diminta untuk terus belajar, maka guru harus lebih dahulu menunjukkan bahwa belajar tidak pernah berhenti.
Jika santri diminta untuk berubah, maka pendidik harus berani berubah.
Jika kita meminta anak-anak menatap masa depan, maka kita tidak boleh terus-menerus mendidik mereka hanya dengan cara pandang masa lalu.
Jangan hanya hadir. Hadirkan manfaat.
Jangan hanya menjalankan tugas. Hidupkan amanah.
Jangan hanya mendidik dengan kata-kata. Didiklah dengan teladan.
Jangan hanya mendengar lonceng.
Bangunlah, lalu bangunkanlah yang lain.
Karena mungkin lonceng itu telah lama berbunyi.
Yang kita butuhkan bukan suara yang lebih keras.
Kita membutuhkan hati yang kembali mau mendengar.


bagus kan? ayo komen

0 Komentar