SABANG, 16 September 2026 — Perjalanan pendidikan menjadi pengalaman yang penuh perjuangan bagi Ustadzah Mita dan Ustadzah Ida Susanti. Keduanya tidak hanya menyelesaikan pendidikan hingga wisuda, tetapi juga tetap menjalankan amanah sebagai guru dan pengasuh di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid.
Keduanya berhasil meraih predikat sebagai salah satu lulusan terbaik pada Wisuda Angkatan III Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Al-Aziziyah Sabang yang dilaksanakan di Balohan, Sabang. Ustadzah Ida Susanti meraih IPK 3,93, sementara Ustadzah Mita memperoleh IPK 3,89. Pencapaian tersebut disambut dengan rasa syukur dan bahagia.
Bagi Ustadzah Mita, menjadi salah satu lulusan terbaik merupakan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Menurutnya, pencapaian tersebut bukan hanya tentang hasil akademik, tetapi juga merupakan hasil dari proses panjang yang diiringi tanggung jawab, doa, dukungan, dan pengorbanan.
“Pencapaian ini bukan hanya tentang hasil akademik, tetapi juga tentang perjalanan panjang yang penuh dengan proses, tanggung jawab, dan banyak hal yang harus ana jalani secara bersamaan,” ungkap Ustadzah Mita.
Hal serupa juga disampaikan Ustadzah Ida Susanti. Ia mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pendidikan sekaligus menjalankan amanah di pesantren. Menurutnya, predikat lulusan terbaik bukan sesuatu yang secara khusus ditargetkan, sehingga pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang sangat berarti.
Dalam menjalani perkuliahan, keduanya harus mampu membagi waktu antara tugas akademik dan tanggung jawab di pesantren. Kunci yang mereka pegang adalah menentukan prioritas, disiplin, serta memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin.
Terlebih ketika memasuki masa penyusunan skripsi, waktu yang dimiliki menjadi semakin terbatas. Keduanya harus memanfaatkan waktu di sela-sela kegiatan pesantren, bahkan terkadang menyelesaikan tugas kuliah pada malam hari setelah seluruh aktivitas selesai.
“Tantangan yang paling berat adalah ketika beberapa tanggung jawab datang dalam waktu yang bersamaan. Ada tugas kuliah, mengajar, kegiatan pesantren, dan kebutuhan santri yang harus diselesaikan,” jelas Ustadzah Mita.
Meski demikian, proses tersebut justru memberikan banyak pelajaran. Keduanya belajar untuk tetap tenang, menyusun prioritas, dan menyelesaikan setiap tanggung jawab satu per satu.
Dukungan dari orang tua, keluarga, guru, teman-teman, serta lingkungan pesantren juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Dukungan tersebut membantu keduanya melewati berbagai kesibukan hingga akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Bagi Ustadzah Mita dan Ustadzah Ida, pencapaian sebagai lulusan terbaik bukanlah akhir dari perjalanan. Keduanya berharap pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar, menjaga amanah, dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Perjalanan keduanya menjadi gambaran bahwa kesibukan dan tanggung jawab bukan menjadi penghalang untuk terus berkembang. Dengan disiplin, kesabaran, doa, dan kemampuan mengatur prioritas, berbagai amanah dapat dijalani secara beriringan.
Narasumber:
Ida Susanti,S.H.
Miftahul Jannah,S.H.
Jurnalis: Hudzaifah Shadira Hutomo
bagus kan? ayo komen
0 Komentar