Suatu hari, seorang santri datang kepada gurunya.
Wajahnya terlihat lelah.
Ia berkata:
"Ustaz, mengapa semangat itu mudah datang, tetapi sulit bertahan?"
"Mengapa ketika awal tahun kami begitu bersemangat?"
"Mengapa ketika ada program baru kami begitu antusias?"
"Tetapi setelah beberapa waktu, semangat itu mulai berkurang?"
Sang guru tersenyum.
Lalu beliau membuka mushaf.
Beliau menunjukkan satu ayat yang sangat terkenal.
Allah berfirman:
اصْبِرُوا Ùˆَصَابِرُوا ÙˆَرَابِØ·ُوا
"Bersabarlah, kuatkan kesabaranmu dalam menghadapi orang lain, dan tetaplah teguh menjaga perjuangan."
(QS. Ali Imran: 200)
Santri itu memperhatikan.
Lalu bertanya:
"Bukankah semuanya berarti sabar?"
Guru itu tersenyum.
"Tidak."
"Allah tidak sedang mengulang kata yang sama."
"Allah sedang mengajarkan tahapan perjalanan orang-orang yang ingin berhasil."
---
Tahap Pertama: Isbiru — Menang Melawan Diri Sendiri
Guru itu berkata:
"Perjuangan pertama bukan melawan orang lain."
"Tetapi melawan diri sendiri."
Bangun Subuh ketika masih mengantuk.
Datang mengajar ketika badan terasa lelah.
Membaca buku ketika lebih ingin bermain ponsel.
Menyelesaikan amanah ketika tidak ada yang mengawasi.
Menahan emosi ketika marah.
Menepati janji ketika tidak ada yang mengingatkan.
Semua itu adalah perjuangan melawan diri sendiri.
Dan ternyata musuh yang paling sulit dikalahkan bukanlah orang lain.
Tetapi hawa nafsu kita sendiri.
Karena itu Allah memulai dengan:
اصْبِرُوا
Bersabarlah terhadap dirimu sendiri.
---
Masalah Banyak Orang Berhenti di Tahap Ini
Banyak orang memiliki cita-cita.
Tetapi tidak memiliki disiplin.
Banyak orang memiliki niat baik.
Tetapi tidak memiliki kesabaran.
Banyak orang ingin berubah.
Tetapi tidak sanggup menghadapi rasa tidak nyaman yang mengiringi perubahan.
Mereka ingin menjadi lebih baik.
Tetapi tidak mau melewati proses menjadi lebih baik.
Padahal setiap perubahan selalu meminta pengorbanan.
Tidak ada kemajuan tanpa rasa lelah.
Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan.
Tidak ada kedisiplinan tanpa melawan kemalasan.
---
Tahap Kedua: Shabiru — Bersabar Menghadapi Orang Lain
Guru itu melanjutkan.
"Kalau engkau sudah mampu mengendalikan dirimu, ujian berikutnya adalah manusia."
Karena hidup tidak pernah sendiri.
Di pesantren ada guru.
Ada santri.
Ada pengurus.
Ada wali kelas.
Ada musyrif.
Ada pimpinan.
Ada teman seperjuangan.
Dan tidak semuanya selalu sesuai harapan.
Kadang ada yang terlambat.
Kadang ada yang lalai.
Kadang ada yang salah paham.
Kadang ada yang berbeda pendapat.
Kadang ada yang belum bekerja secepat yang kita inginkan.
Di sinilah Allah berfirman:
Ùˆَصَابِرُوا
Bersabarlah menghadapi orang lain.
Karena perjuangan tidak hanya membutuhkan orang yang kuat.
Tetapi juga orang yang mampu bekerja sama.
---
Banyak Program Gagal Bukan Karena Kurang Orang Pintar
Sering kali sebuah program tidak gagal karena kekurangan ide.
Tetapi karena kekurangan kesabaran.
Kita mudah bersemangat ketika memulai.
Tetapi mudah kecewa ketika menghadapi hambatan.
Kita mudah membuat rencana.
Tetapi sulit bertahan ketika berhadapan dengan kenyataan.
Padahal membangun pesantren adalah pekerjaan panjang.
Membangun budaya lebih sulit daripada membuat aturan.
Membangun karakter lebih sulit daripada membuat jadwal.
Membangun manusia lebih sulit daripada membangun gedung.
Karena itu dibutuhkan kesabaran menghadapi manusia.
---
Tahap Ketiga: Rabithu — Menjaga Perjuangan Agar Tidak Putus
Santri itu mengangguk.
Namun gurunya belum selesai.
Beliau berkata:
"Masih ada satu tahap lagi."
"Dan ini yang paling sulit."
Yaitu:
ÙˆَرَابِØ·ُوا
Tetaplah berjaga.
Tetaplah bertahan.
Tetaplah istiqamah.
Tetaplah berada di posisi perjuangan.
Karena banyak orang mampu memulai.
Tetapi sedikit yang mampu bertahan.
Membangun budaya Subuh itu tidak sulit.
Yang sulit adalah menjaganya setiap hari.
Membuat program literasi tidak sulit.
Yang sulit adalah mempertahankannya bertahun-tahun.
Membuat aturan disiplin tidak sulit.
Yang sulit adalah menjaganya ketika mulai dilupakan.
Membuat semangat tidak sulit.
Yang sulit adalah menjaga semangat.
---
Al-Mujaddid Tidak Kekurangan Orang Baik
Jika kita jujur, Al-Mujaddid tidak kekurangan orang baik.
Tidak kekurangan ide.
Tidak kekurangan program.
Tidak kekurangan cita-cita.
Yang sering menjadi tantangan adalah bagaimana menjaga semua itu tetap hidup.
Bagaimana menjaga budaya yang pernah kuat agar tidak hilang.
Bagaimana menjaga semangat yang pernah menyala agar tidak redup.
Bagaimana menjaga disiplin agar tidak hanya muncul ketika diawasi.
Bagaimana menjaga amanah agar tidak hanya berjalan ketika diingatkan.
Karena keberhasilan sebuah pesantren bukan ditentukan oleh seberapa hebat awalnya.
Tetapi oleh seberapa lama ia mampu menjaga nilai-nilai yang benar.
---
Untuk Para Guru
Jangan lelah memperbaiki diri.
Karena pendidikan dimulai dari diri sendiri.
Jangan berhenti belajar.
Karena murid tidak akan tumbuh jauh melampaui kualitas gurunya.
Jangan hanya meminta santri disiplin.
Tunjukkan disiplin itu melalui kehidupan kita.
---
Untuk Para Pengurus
Jangan hanya bersemangat ketika dilantik.
Jangan hanya aktif ketika diawasi.
Jangan hanya bekerja ketika mendapat apresiasi.
Tetapi bekerjalah karena amanah.
Karena orang hebat bukan yang paling bersemangat saat memulai.
Tetapi yang paling istiqamah saat menjalaninya.
---
RENUNGAN HARI INI
Pagi ini mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Apakah saya sudah menang melawan diri sendiri?
Ataukah saya masih sering kalah oleh rasa malas?
Apakah saya sudah bersabar menghadapi orang lain?
Ataukah saya lebih suka menyalahkan daripada membantu?
Apakah saya masih menjaga perjuangan?
Ataukah semangat saya hanya muncul pada awal perjalanan?
Karena Allah tidak hanya memerintahkan:
اصبروا
Tetapi juga:
صابروا
Dan:
رابطوا
Seakan Allah ingin mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir dari satu jenis kesabaran.
Keberhasilan lahir dari tiga kesabaran:
Kesabaran memperbaiki diri.
Kesabaran menghadapi manusia.
Kesabaran menjaga perjuangan.
Dan mungkin itulah rahasia mengapa sebagian lembaga mampu bertahan puluhan tahun.
Bukan karena mereka tidak memiliki masalah.
Tetapi karena mereka memiliki orang-orang yang terus bertahan dalam perjuangan.
Memulai adalah keberanian.
Bertahan adalah kesabaran.
Menjaga perjuangan hingga akhir adalah kemenangan.
Maka jangan hanya menjadi orang yang pandai memulai.
Jadilah orang yang mampu bertahan.
Karena sejarah tidak dibangun oleh mereka yang hanya bersemangat di awal.
Tetapi oleh mereka yang istiqamah sampai akhir.

bagus kan? ayo komen
0 Komentar