Kemarin, ada sesuatu yang mungkin bagi sebagian kita terlihat sederhana.
Sekelompok mahasiswa dari Jerman datang ke Al-Mujaddid.
Mereka datang dari sebuah universitas yang usianya bahkan lebih tua daripada banyak negara modern yang kita kenal.
Mereka datang dari Kiel, sebuah kota di tepi Laut Baltik.
Dan mereka datang ke Sabang.
Ke sebuah pulau kecil di ujung barat Indonesia.
Ke sebuah pesantren.
Mereka datang membawa banyak pertanyaan.
Tentang pesantren.
Tentang Islam.
Tentang santri.
Tentang kehidupan sehari-hari.
Tentang bagaimana anak-anak Indonesia belajar dan hidup.
Dan kita menyambut mereka dengan apa yang kita punya.
Senyuman.
Keramahan.
Tarian.
Rapai.
Percakapan.
Dan anak-anak kita.
Kemudian sesuatu yang menarik terjadi.
Setelah acara penyambutan selesai, mereka tidak buru-buru pergi.
Mereka duduk bersama guru.
Mereka berbicara dengan santri.
Mereka bertanya.
Anak-anak kita menjawab.
Ada yang berdiskusi di dalam kelas.
Ada pula yang duduk bersama di bawah pohon.
Tidak ada lagi jarak antara “tamu” dan “tuan rumah.”
Yang ada hanya manusia yang sedang saling mengenal.
Dan mungkin justru di situlah perjumpaan yang sebenarnya dimulai.
Mereka datang untuk melihat kita.
Tetapi tanpa kita sadari...
mereka membuat kita melihat diri kita sendiri.
Mereka melihat sesuatu yang selama ini mungkin terlalu biasa bagi kita.
Mereka melihat anak-anak yang mengenakan pakaian santri.
Mereka melihat cara kita menyambut tamu.
Mereka melihat bagaimana guru berbicara dengan santri.
Mereka melihat tradisi Islam yang hidup.
Mereka melihat Tari Ranup.
Mereka mendengar Rapai.
Mereka melihat anak-anak kita berani berbicara dengan orang asing.
Dan salah seorang dari mereka mengatakan sesuatu yang sederhana:
“I feel welcomed.”
Saya merasa diterima.
Bukankah itu sebuah kalimat yang layak kita renungkan?
Karena terkadang kita terlalu sibuk melihat apa yang kurang.
Gedung kurang bagus.
Fasilitas belum lengkap.
Kemampuan bahasa belum sempurna.
Program belum sempurna.
Santri masih banyak kekurangan.
Guru masih banyak kekurangan.
Kita pun masih banyak kekurangan.
Semua itu benar.
Tetapi jangan sampai karena terlalu sering melihat kekurangan...
kita lupa membesarkan hati anak-anak kita.
Kemarin mereka belajar sesuatu yang mungkin lebih berharga daripada sekadar pelajaran bahasa Inggris.
Mereka belajar bahwa:
“Ternyata aku bisa berbicara dengan orang dari Jerman.”
“Ternyata ceritaku menarik untuk didengar.”
“Ternyata budayaku ingin diketahui orang lain.”
“Ternyata pesantren tempatku belajar memiliki sesuatu yang ingin dipelajari orang lain.”
Dan itu penting.
Membesarkan hati santri bukan berarti memuji mereka tanpa alasan.
Bukan mengatakan:
“Kalian hebat.”
lalu selesai.
Membesarkan hati berarti memberikan mereka pengalaman yang membuat mereka menemukan sendiri bahwa mereka mampu.
Biarkan mereka bertemu orang yang berbeda.
Biarkan mereka bertanya.
Biarkan mereka menjawab.
Biarkan mereka sesekali gugup.
Biarkan mereka salah mengucapkan kata.
Biarkan mereka tertawa ketika salah.
Kemudian biarkan mereka pulang dengan satu kesadaran:
“Aku ternyata bisa.”
Kalimat kecil itu bisa mengubah cara seorang anak memandang dirinya sendiri.
Mungkin selama ini kita terlalu sering membesarkan kesalahan anak.
Salah sedikit...
kita tegur.
Kurang disiplin...
kita marahi.
Tidak hafal...
kita kritik.
Tidak berprestasi...
kita bandingkan.
Tetapi kapan terakhir kali kita memberikan mereka pengalaman yang membuat mereka berkata:
“Ternyata aku punya sesuatu.”
Kemarin, dunia memberi kesempatan itu kepada anak-anak kita.
Mereka tidak datang untuk mengatakan:
“Anak-anak Al-Mujaddid tidak cukup baik.”
Mereka justru datang dan berkata, dengan cara mereka sendiri:
“Tell us about your life.”
Dan anak-anak kita memiliki cerita untuk dibagikan.
Inilah mengapa perjumpaan itu penting.
Anak yang hanya hidup di lingkungan yang sama akan mengenal dunia melalui cerita.
Tetapi anak yang bertemu dengan orang yang berbeda...
mengalami dunia secara langsung.
Kemarin dunia tidak lagi berada di buku.
Tidak lagi di YouTube.
Tidak lagi di Google.
Tidak lagi di cerita tentang luar negeri.
Dunia duduk di depan mereka.
Berbicara.
Bertanya.
Tertawa.
Mendengarkan.
Dan ternyata...
dunia tidak seseram yang dibayangkan.
Tetapi ada satu hal yang jangan sampai hilang.
Ketika kita membuka pintu kepada dunia...
jangan sampai kita kehilangan diri sendiri.
Kemarin kita tidak perlu menjadi seperti Jerman agar mereka tertarik.
Kita tidak perlu menyembunyikan identitas kita.
Justru Tari Ranup kita tampilkan.
Rapai kita mainkan.
Tradisi kita ceritakan.
Santri kita hadirkan sebagaimana adanya.
Kita tidak berkata:
“Welcome to Al-Mujaddid. We are trying to become like you.”
Tidak.
Kita mengatakan melalui seluruh keberadaan kita:
“Welcome to Al-Mujaddid. This is who we are.”
Dan ternyata...
mereka menghargainya.
Berakar, tetapi tidak tertutup.
Mungkin itulah salah satu bekal penting bagi anak-anak kita.
Tidak perlu takut terhadap dunia.
Tetapi juga tidak perlu kehilangan diri ketika bertemu dunia.
Kenali orang lain.
Hormati perbedaan.
Dengarkan pengalaman mereka.
Belajar dari mereka.
Tetapi kenali pula:
siapa kita,
dari mana kita berasal,
apa yang kita yakini,
dan nilai apa yang ingin kita bawa ke mana pun kita pergi.
Dan lihat apa yang terjadi setelah mereka pulang.
Acara selesai.
Mereka meninggalkan Sabang.
Tetapi hubungan tidak ikut selesai.
Ada yang mengikuti media sosial.
Ada yang mengirim pesan.
Ada yang meminta video.
Ada yang ingin tahu lebih banyak.
Ada yang bahkan mulai membayangkan kemungkinan menjadikan pengalaman di Al-Mujaddid sebagai bagian dari penelitian mereka.
Artinya...
perjumpaan itu meninggalkan jejak.
Dan mungkin inilah pelajaran yang paling indah:
Kita tidak pernah tahu seberapa jauh sebuah kebaikan kecil akan berjalan.
Satu sambutan.
Satu tarian.
Satu percakapan.
Satu senyuman.
Satu keberanian seorang santri menjawab pertanyaan.
Bisa menjadi awal dari sesuatu yang bahkan belum pernah kita bayangkan.
Maka jangan pernah berkata kepada anak-anak kita:
“Kamu cuma santri dari Sabang.”
Tidak.
Katakan kepada mereka:
“Kamu adalah santri Al-Mujaddid.”
Kamu mungkin berasal dari pulau kecil.
Tetapi pikiranmu tidak harus kecil.
Kamu mungkin belum pernah keluar negeri.
Tetapi wawasanmu tidak harus terbatas.
Kamu mungkin belum fasih berbahasa asing.
Tetapi jangan takut berbicara.
Kamu mungkin belum tahu banyak.
Tetapi beranilah bertanya.
Karena kemarin...
anak-anak kita telah membuktikan satu hal:
Mereka punya sesuatu untuk dibagikan kepada dunia.
Ibrah Pagi Ini
Jangan hanya mendidik anak agar pandai menjawab pertanyaan ujian.
Didik mereka agar berani menjawab pertanyaan kehidupan.
Jangan hanya membuat mereka mampu mengikuti dunia.
Buat mereka mampu berdialog dengan dunia.
Jangan hanya membuat mereka bangga karena pernah bertemu orang dari luar negeri.
Buat mereka sadar:
“Aku juga punya sesuatu yang layak dikenal.”
Dan sebagai guru, pengasuh, orang tua, dan seluruh keluarga besar Al-Mujaddid...
mungkin tugas kita bukan selalu mengatakan kepada anak-anak:
“Kamu harus menjadi hebat.”
Kadang cukup mengatakan:
“Kami percaya kamu punya sesuatu.”
Lalu berikan mereka ruang untuk membuktikannya.
Ajakan Pagi Ini
Hari ini, mari kita coba satu hal sederhana.
Ketika melihat seorang santri yang biasanya hanya kita lihat dari kekurangannya...
lihat sekali lagi.
Mungkin ada keberanian yang belum muncul.
Mungkin ada bakat yang belum diberi ruang.
Mungkin ada cerita yang belum pernah didengar.
Mungkin ada potensi yang selama ini tertutup karena kita terlalu sibuk mengoreksi.
Besarkan hatinya.
Bukan dengan pujian kosong.
Tetapi dengan kepercayaan.
Dengan kesempatan.
Dengan percakapan.
Dengan pengalaman.
Dengan mengatakan:
“Coba. Kami ingin melihat apa yang bisa kamu lakukan.”
Sebab seorang anak yang dipercaya...
sering kali tumbuh menjadi seseorang yang akhirnya percaya kepada dirinya sendiri.
Kiel → Sabang
Kemarin mereka datang untuk belajar tentang kita.
Tetapi mungkin Allah menghadirkan mereka juga untuk mengajarkan kita sesuatu:
Jangan meremehkan apa yang ada di hadapanmu.
Jangan mengecilkan anak-anakmu hanya karena mereka belum menjadi apa-apa.
Dan jangan membuat mereka merasa kecil hanya karena mereka berasal dari tempat yang kecil.
Karena boleh jadi...
dunia sedang menunggu sesuatu yang tumbuh dari tempat kecil itu.
Dan tugas kita hari ini bukan menentukan seberapa besar mereka kelak.
Tugas kita adalah memastikan...
hati mereka cukup besar untuk percaya bahwa mereka mampu.
Guten Morgen. Selamat pagi. Shabahal Khair. Good Morning.
“Sometimes, the world comes to our doorstep—not only to see what we have, but to remind us of what we are capable of becoming.”

bagus kan? ayo komen
0 Komentar