Ketika Nilai Hanya Menjadi Tulisan Tentang pentingnya menghidupkan nilai, bukan sekadar membicarakannya

 


Suatu hari, seorang santri berjalan bersama gurunya mengelilingi pesantren.

Mereka melewati sebuah dinding besar.

Di sana tertulis dengan indah:

DISIPLIN. KEJUJURAN. TANGGUNG JAWAB. KEBERSAMAAN. KETELADANAN.

Tulisan itu begitu indah.

Hurufnya besar.

Warnanya menarik.

Setiap orang yang datang ke pesantren dapat membacanya.

Santri itu memandang dinding tersebut cukup lama.

Lalu ia bertanya kepada gurunya:

“Ustaz, apakah kita sudah menjadi seperti tulisan itu?”

Sang guru tersenyum.

“Itulah yang sedang kita usahakan.”

Santri itu kemudian menunjuk tulisan KEJUJURAN.

“Kalau begitu, mengapa masih ada yang mencari alasan ketika amanahnya belum selesai?”

Ia menunjuk tulisan TANGGUNG JAWAB.

“Mengapa masih ada yang saling menunggu ketika ada masalah?”

Ia menunjuk tulisan KETELADANAN.

“Mengapa kami diminta disiplin, tetapi kadang kami melihat orang yang menyuruh kami justru tidak disiplin?”

Guru itu mulai terdiam.

Kemudian santri itu menunjuk tulisan KEBERSAMAAN.

“Mengapa kita sering berbicara tentang kebersamaan, tetapi ketika ada pekerjaan berat, yang bekerja hanya orang-orang tertentu?”

Kali ini guru itu tidak mampu segera menjawab.

Sebab ia mulai memahami sesuatu.

Nilai-nilai itu memang ada di dinding.

Tetapi belum tentu hidup dalam kehidupan.


Kita Sering Pandai Berbicara tentang Nilai

Kita berbicara tentang:

disiplin,

tetapi belum tentu disiplin terhadap waktu.

Kita berbicara tentang:

tanggung jawab,

tetapi belum tentu berani berkata:

“Maaf, amanah ini belum dapat saya selesaikan.”

Kita berbicara tentang:

kejujuran,

tetapi masih mencari alasan untuk menutupi kelalaian.

Kita berbicara tentang:

kebersihan,

tetapi masih membiarkan sampah yang bukan kita buang.

Kita berbicara tentang:

literasi,

tetapi tidak pernah terlihat membaca.

Kita berbicara tentang:

keteladanan,

tetapi lupa bahwa anak-anak sedang memperhatikan kehidupan kita.

Kita berbicara tentang:

inovasi dan perubahan,

tetapi merasa cukup dengan apa yang telah kita ketahui bertahun-tahun.

Dan mungkin tanpa sadar, kita telah membangun sebuah lembaga yang kaya dengan kata-kata tentang nilai, tetapi miskin contoh hidup tentang nilai.


Nilai Bukan untuk Dipajang

Sebuah nilai bukan hiasan.

Ia bukan sekadar:

motto di dinding,

kata-kata dalam visi,

materi saat rapat,

isi sambutan,

atau tulisan di spanduk.

Nilai seharusnya hidup.

Ia terlihat ketika tidak ada yang mengawasi.

Ia terlihat dalam hal-hal kecil.

Bagaimana kita datang tepat waktu.

Bagaimana kita berbicara kepada orang lain.

Bagaimana kita memperlakukan bawahan.

Bagaimana kita meminta maaf.

Bagaimana kita menjalankan amanah.

Bagaimana kita merespons kritik.

Bagaimana kita menepati janji.

Bagaimana kita tetap bekerja meskipun tidak dipuji.

Nilai yang hidup tidak selalu membutuhkan banyak kata.

Ia dapat dilihat. Ia dapat dirasakan. Ia dapat diteladani.


Jangan Sampai Anak-Anak Lebih Sering Mendengar Nilai daripada Melihatnya

Seorang santri mungkin dapat melupakan banyak nasihat.

Tetapi ia akan sulit melupakan apa yang setiap hari ia lihat.

Ia melihat apakah gurunya membaca.

Ia melihat apakah pengasuhnya datang tepat waktu.

Ia melihat apakah pengurus berani bertanggung jawab.

Ia melihat apakah pemimpinnya mau mengakui kesalahan.

Ia melihat apakah orang dewasa benar-benar melakukan apa yang mereka katakan.

Karena anak-anak sedang belajar.

Bukan hanya dari pelajaran.

Tetapi dari kehidupan orang-orang di sekitar mereka.

Pesantren adalah sekolah yang dindingnya tidak berhenti mengajar.

Dan para pendidiknya adalah kurikulum yang berjalan.

Maka sebelum bertanya:

“Mengapa anak-anak belum berubah?”

Mungkin kita perlu bertanya:

“Nilai apa yang sebenarnya mereka lihat dari kehidupan kita setiap hari?”


Berbicara tentang Nilai Itu Mudah. Menjaganya Ketika Sulit Itulah Pendidikan.

Mudah berbicara tentang kejujuran.

Yang sulit adalah jujur ketika kejujuran membuat kita terlihat salah.

Mudah berbicara tentang disiplin.

Yang sulit adalah disiplin ketika tidak ada yang mengawasi.

Mudah berbicara tentang tanggung jawab.

Yang sulit adalah berkata:

“Saya belum mampu menyelesaikannya. Saya membutuhkan bantuan.”

Mudah berbicara tentang kebersamaan.

Yang sulit adalah tetap hadir ketika pekerjaan tidak menghasilkan nama dan penghargaan.

Mudah berbicara tentang pembelajaran sepanjang hayat.

Yang sulit adalah mau kembali belajar ketika usia, pengalaman, atau jabatan membuat kita merasa sudah cukup.

Di situlah nilai diuji.

Nilai bukan dibuktikan ketika keadaan mudah.

Nilai dibuktikan ketika keadaan sulit.


Al-Mujaddid Tidak Hanya Membutuhkan Nilai yang Indah

Kita dapat memiliki nilai yang sangat mulia.

Kita dapat menuliskannya dengan indah.

Kita dapat menghafalnya.

Kita dapat menyebutkannya dalam setiap kegiatan.

Tetapi lembaga tidak akan berubah hanya karena nilai-nilai itu ditulis.

Nilai harus diterjemahkan menjadi:

PERILAKU

Bagaimana disiplin terlihat dalam tindakan?

KEBIASAAN

Bagaimana tindakan baik dilakukan terus-menerus?

SISTEM

Bagaimana lembaga membantu orang mempertahankan kebiasaan itu?

BUDAYA

Bagaimana akhirnya orang melakukan kebaikan bukan hanya karena diperintah, tetapi karena:

“Memang begitulah cara kita hidup di sini.”

Inilah perjalanan sebuah nilai:

NILAI → TELADAN → PERILAKU → PEMBIASAAN → SISTEM → BUDAYA

Jangan sampai kita berhenti di tahap pertama.

Jangan hanya memiliki nilai.

Mari menghidupkan nilai.


Untuk Para Guru

Jangan hanya mengajarkan anak-anak:

“Rajinlah membaca.”

Tunjukkan bahwa kita juga membaca.

Jangan hanya berkata:

“Jadilah pembelajar.”

Tunjukkan bahwa kita juga terus belajar.

Jangan hanya meminta mereka:

“Berani mencoba.”

Tunjukkan bahwa kita pun berani keluar dari zona nyaman.

Jangan hanya berkata:

“Jadilah lebih baik.”

Tunjukkan bahwa kita juga berusaha menjadi lebih baik dari kemarin.

Karena:

Guru yang berhenti belajar sedang meminta muridnya berlari lebih jauh daripada dirinya.

Dan itu adalah sesuatu yang sulit.


Untuk Para Pengasuh

Jangan hanya berbicara tentang akhlak.

Hidupkan akhlak dalam cara kita menegur.

Dalam cara kita mendengar.

Dalam cara kita marah.

Dalam cara kita memaafkan.

Dalam cara kita menghadapi anak yang bermasalah.

Karena kadang anak tidak membutuhkan orang dewasa yang paling banyak berbicara tentang kasih sayang.

Ia membutuhkan orang dewasa yang benar-benar memperlakukannya dengan kasih sayang.

Jangan hanya menuntut anak-anak bertumbuh.

Tunjukkan bahwa kita juga masih bertumbuh.


Untuk Para Pengurus

Jangan hanya berbicara tentang amanah.

Tunjukkan dalam cara kita menjalankan tugas.

Jangan hanya berbicara tentang kepemimpinan.

Tunjukkan dalam cara kita melayani.

Jangan hanya berbicara tentang tanggung jawab.

Tunjukkan dengan tidak menghilang ketika masalah datang.

Dan ketika belum mampu menyelesaikan amanah, jangan memilih diam.

Jangan mencari alasan.

Jangan menyembunyikan masalah.

Belajarlah berkata:

“Maaf, saya belum mampu.”

“Saya membutuhkan bantuan.”

“Mari kita selesaikan bersama.”

Karena bertanggung jawab bukan berarti harus mampu melakukan semuanya sendirian.

Bertanggung jawab berarti tidak meninggalkan amanah ketika kita sedang tidak mampu menyelesaikannya.


Untuk Para Pemimpin

Jangan hanya meminta orang hidup sesuai nilai.

Buatlah nilai itu terasa dalam kepemimpinan.

Jika kita ingin keterbukaan, beranilah terbuka.

Jika kita ingin disiplin, jadilah yang lebih dahulu disiplin.

Jika kita ingin orang bertumbuh, berilah ruang untuk bertumbuh.

Jika kita ingin keberanian, jangan mematikan setiap kesalahan dengan hukuman.

Jika kita ingin inovasi, jangan membuat orang takut mencoba.

Jika kita ingin kejujuran, jangan menghukum orang yang jujur mengakui kelemahannya.

Karena:

Nilai lembaga pada akhirnya akan mengikuti perilaku yang paling sering ditoleransi oleh pemimpinnya.


RENUNGAN HARI INI

Pagi ini mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Nilai apa yang sering saya bicarakan?

Lalu pertanyaan yang lebih penting:

Apakah orang lain dapat melihat nilai itu hidup dalam diri saya?

Apakah saya berbicara tentang disiplin, tetapi sering meminta pengertian atas keterlambatan saya?

Apakah saya berbicara tentang tanggung jawab, tetapi sulit dimintai kabar ketika amanah belum selesai?

Apakah saya berbicara tentang belajar, tetapi sudah lama tidak mempelajari sesuatu yang baru?

Apakah saya berbicara tentang keteladanan, tetapi lupa bahwa anak-anak selalu memperhatikan?

Apakah saya berbicara tentang perubahan, tetapi diam ketika perubahan harus dimulai dari diri sendiri?


Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak akan hanya mengingat apa yang kita katakan.

Mereka akan mengingat:

siapa kita ketika tidak sedang berbicara.


“Nilai yang hanya dibicarakan akan tinggal di telinga.”

“Nilai yang dihidupkan akan masuk ke dalam kehidupan.”

Maka jangan hanya berkata:

“Di lembaga ini kita menjunjung tinggi nilai.”

Tetapi mari bertanya:

“Apakah nilai itu benar-benar hidup dalam cara kita menjalani hari?”

Jangan hanya tuliskan nilainya.

Jangan hanya hafalkan nilainya.

Jangan hanya bicarakan nilainya.

Hidupkan nilainya.

Karena lembaga tidak akan dikenal oleh nilai yang tertulis di dindingnya.

Lembaga akan dikenal oleh nilai yang hidup dalam diri orang-orangnya.

Nilai diucapkan.

Nilai dipahami.

Nilai diteladankan.

Nilai dibiasakan.

Nilai dihidupkan.

Di situlah sebuah lembaga mulai memiliki jiwa.

bagus kan? ayo komen

0 Komentar