Pada tahun 1936, ketika KH. Imam Zarkasyi menangani pembukaan Kulliyyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) di Pondok Gontor, beliau tidak sekadar membuat sebuah sekolah baru.
Yang dibangun adalah sebuah sistem kehidupan.
KMI memadukan pendidikan klasikal dengan kehidupan pesantren. Santri tidak hanya duduk di kelas menerima pelajaran agama dan umum, tetapi tinggal di asrama dan berada dalam lingkungan pendidikan selama 24 jam.
Olahraga menjadi pendidikan.
Organisasi menjadi pendidikan.
Kehidupan asrama menjadi pendidikan.
Bahasa menjadi pendidikan.
Kegiatan harian menjadi pendidikan.
Bahkan interaksi antarsantri dan guru menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian.
Pada tahun pertama, sistem ini bahkan belum langsung diterima masyarakat. Kritik dan ejekan muncul karena model pendidikan seperti itu masih dianggap asing: sistem klasikal, pelajaran umum, bahasa Arab dan Inggris, kehidupan berasrama, serta berbagai bentuk pendidikan yang berbeda dari kebiasaan pesantren saat itu.
Namun Pak Zar (beliau lebih suka dipanggil dengan sebutan ini dan menjadi panggilan akrab beliau di antara guru-guru bahkan para santri dan alumni) tidak menjadikan kritik sebagai alasan untuk kembali kepada pola lama.
Beliau justru terus menyempurnakan sistem.
Sebab yang sedang beliau bangun bukan sekadar sekolah yang berada di dalam pesantren.
Beliau sedang membangun pesantren yang seluruh kehidupannya menjadi sekolah.
Ada satu prinsip yang sangat kuat dalam pemikiran pendidikan KH. Imam Zarkasyi:
"Semua yang ada di pondok ini sengaja diciptakan untuk pendidikan."
Prinsip ini menjelaskan mengapa pendidikan di Gontor tidak berhenti ketika guru keluar dari kelas.
KH. Imam Zarkasyi juga menegaskan bahwa tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Dalam tulisan beliau tentang stabilitas pendidikan KMI, beliau menjelaskan bahwa tugas pokok guru mencakup mengajar diri sendiri dan orang lain, serta mendidik diri sendiri dan orang lain. Pendidikan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
Karena itu, dalam tradisi Gontor, apa yang dilihat, didengar, dan dialami santri dalam kehidupan pondok menjadi bagian dari pendidikan.
Bukan hanya apa yang guru katakan.
Tetapi juga bagaimana guru hidup.
Bukan hanya apa yang tertulis dalam jadwal.
Tetapi juga apa yang menjadi kebiasaan.
Di sinilah pemikiran KH. Imam Zarkasyi menjadi sangat penting bagi manajemen pesantren.
Ada dua macam lembaga.
Lembaga pertama:
Memiliki program pendidikan.
Tetapi setelah program selesai, kehidupan kembali seperti biasa.
Ada jadwal tahfiz.
Ada jadwal kajian.
Ada jadwal kebersihan.
Ada apel.
Ada pembelajaran.
Tetapi semuanya berjalan sebagai kegiatan yang terpisah.
Lembaga kedua:
Menjadikan seluruh sistem kehidupan sebagai kurikulum.
Ketika santri terlambat, ia belajar tentang tanggung jawab.
Ketika mendapat amanah, ia belajar tentang kepemimpinan.
Ketika membersihkan kamar, ia belajar tentang kemandirian.
Ketika bekerja dalam kelompok, ia belajar tentang ukhuwah.
Ketika guru datang tepat waktu, ia belajar tentang keteladanan.
Ketika sebuah masalah diselesaikan dengan musyawarah, ia belajar tentang kedewasaan.
Inilah yang disebut hidden curriculum: pendidikan yang tidak selalu tertulis di buku pelajaran, tetapi terus-menerus ditangkap oleh peserta didik melalui lingkungan dan budaya.
Maka sebenarnya ada sebuah pertanyaan manajemen yang sangat penting:
"Apa yang sedang dipelajari santri dari cara kita mengelola pesantren?"
Karena bisa jadi kita mengajarkan disiplin di kelas,
tetapi sistem kita sendiri tidak disiplin.
Kita mengajarkan amanah,
tetapi tugas sering dibiarkan tanpa tindak lanjut.
Kita mengajarkan kebersihan,
tetapi lingkungan kerja guru berantakan.
Kita mengajarkan kerja sama,
tetapi setiap bagian berjalan sendiri-sendiri.
Pada titik itu, sistem sedang mengajarkan sesuatu yang berbeda dari kurikulum.
Dan santri biasanya lebih cepat menangkap apa yang dilakukan daripada apa yang dikatakan.
Refleksi untuk Pesantren Terpadu Al-Mujaddid
Kita sering bertanya:
"Program apa yang perlu kita tambahkan?"
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah yang sudah kita lakukan setiap hari sudah menjadi pendidikan?"
Misalnya:
Lonceng
Jangan hanya dipahami sebagai alat memanggil santri.
Ia sedang mendidik ketepatan waktu.
Grup WhatsApp
Jangan hanya menjadi tempat menyampaikan informasi.
Ia harus mendidik komunikasi, tanggung jawab, RTL, dan closed loop.
CCTV
Jangan hanya menjadi alat mencari siapa yang melakukan kesalahan.
Ia harus menjadi bagian dari budaya amanah dan pengawasan yang sehat.
Kebersihan
Jangan hanya menjadi tugas bagian kebersihan.
Ia harus mendidik kemandirian dan rasa memiliki.
Rapat
Jangan hanya menjadi tempat kepala bagian memberikan instruksi.
Ia harus menjadi ruang belajar berpikir, menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab.
PIC
Jangan hanya menjadi orang yang menerima tugas.
Ia harus menjadi laboratorium kaderisasi.
Masjid
Jangan hanya menjadi tempat shalat.
Ia harus menjadi pusat pembentukan ruh, disiplin, ketenangan, dan adab.
Dengan demikian, manajemen pesantren sebenarnya bukan hanya mengatur pekerjaan.
Manajemen pesantren adalah mengatur lingkungan agar setiap aktivitas menghasilkan pendidikan.
Maka, sebelum menambah program baru...
Mari kita berhenti sejenak.
Lihat kembali kegiatan yang sudah ada.
Kemudian tanyakan:
Apa yang sedang dipelajari santri dari kegiatan ini?
Jika jawabannya tidak jelas, mungkin kegiatan itu hanya rutinitas.
Jika jawabannya jelas, maka kita sedang mendidik.
Dan jika seluruh kegiatan memiliki arah yang sama, maka kita sedang membangun budaya pendidikan.
Renungan Pagi Ini
Pagi itu mungkin tidak ada guru yang sedang berceramah.
Tidak ada kitab yang sedang dibuka.
Tidak ada papan tulis.
Tidak ada ujian.
Tetapi seorang santri melihat gurunya datang tepat waktu.
Ia melihat seorang senior membantu juniornya.
Ia melihat temannya menyelesaikan amanah.
Ia melihat sampah dipungut tanpa diperintah.
Ia mendengar bahasa yang santun.
Ia melihat sebuah kesalahan diperbaiki tanpa mempermalukan pelakunya.
Ia melihat orang-orang dewasa di sekelilingnya bekerja dengan ikhlas.
Dan tanpa disadarinya...
ia sedang belajar.
Mungkin itulah rahasia pendidikan Imam Zarkasyi.
Pesantren tidak cukup hanya memiliki ruang kelas.
Pesantren harus menjadi ruang pendidikan yang tidak pernah tutup.
Sebab ketika guru berhenti mengajar,
kehidupan tetap mengajar.
Ketika kitab ditutup,
lingkungan tetap berbicara.
Ketika pelajaran berakhir,
budaya tetap mendidik.
Maka pertanyaan untuk kita pagi ini bukan:
"Apa yang akan kita ajarkan kepada santri hari ini?"
Tetapi:
"Apa yang akan mereka pelajari dari cara kita hidup hari ini?"
"Jangan hanya membangun program pendidikan. Bangunlah kehidupan yang dengan sendirinya mendidik."
Dan mungkin inilah salah satu rahasia sebuah pesantren yang panjang umurnya:
Ketika manusia lupa memberikan nasihat, budaya tetap mengingatkan.
Di ufuk barat, matahari tidak pernah memberikan ceramah kepada laut.
Ia hanya terbit.
Cahayanya menyentuh segala sesuatu.
Dan tanpa banyak kata, dunia menjadi terang.
Begitulah seharusnya pendidikan.
Tidak selalu berbicara.
Tetapi selalu memberi cahaya.

bagus kan? ayo komen
0 Komentar