Lulus Untuk Apa? Menimbang Antara Output Dan Outcome Lulusan Pesantren


 

Pagi ini mari kita bertanya sesuatu yang sederhana.

Sebenarnya, untuk apa seorang anak kita dididik di pesantren?

Apakah agar ia lulus?

Tentu.

Apakah agar ia mendapat nilai yang baik?

Tentu.

Apakah agar ia diterima di perguruan tinggi negeri?

Tentu itu sesuatu yang patut disyukuri.

Apakah kita bangga jika alumni Al Mujaddid diterima di universitas ternama?

Tentu boleh. Bahkan sangat boleh.

Tetapi...

Apakah itu tujuan akhir pendidikan kita?

Jangan-jangan tanpa sadar kita telah mengubah ukuran keberhasilan pesantren menjadi:

"Berapa orang yang masuk kampus ini?"

Lalu kita membuat daftar.

PTN favorit.

Universitas ternama.

Jurusan bergengsi.

Beasiswa.

Ranking.

Dan ketika nama-nama itu muncul, kita merasa:

"Berarti pendidikan kita berhasil."

Benarkah sesederhana itu?


Seorang anak diterima di perguruan tinggi negeri adalah output yang membanggakan.

Tetapi perguruan tinggi itu sendiri belum menjamin outcome.

Ia bisa masuk universitas terbaik, tetapi bisa jadi kehilangan integritas.

Ia bisa kuliah di jurusan paling bergengsi, tetapi belum tentu memiliki kepedulian.

Ia bisa memiliki IPK tinggi, tetapi tidak mampu bertanggung jawab.

Ia bisa memiliki pekerjaan yang sangat baik, tetapi hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, ada anak yang mungkin tidak masuk universitas yang selama ini kita banggakan,

tetapi menjadi guru yang tulus, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan,

teknisi yang menyelesaikan masalah masyarakat, petani yang mengembangkan desanya, tenaga kesehatan yang mengabdi, aktivis sosial yang membantu orang lain, orang tua yang mendidik keluarganya dengan baik, atau seseorang yang hidup sederhana tetapi kehadirannya membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Bahkan seseorang yang mau mengajar di pelosok pelosok gampong dan desa, hingga di bawah kolong jembatan sekali pun.

Lalu...

Siapa yang sebenarnya lebih berhasil?


Mungkin kita perlu memperluas kembali makna lulusan Al Mujaddid.

Lulusan bukan sekadar:

"Alumni yang diterima di perguruan tinggi tertentu."

Lulusan adalah:

manusia yang membawa nilai-nilai pendidikan pesantren ke dalam kehidupannya setelah pesantren.

Sebab pesantren tidak seharusnya hanya mempersiapkan anak untuk lulus ujian.

Pesantren harus mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan.

Di sekolah mungkin ada soal pilihan ganda.

Di kehidupan tidak selalu ada pilihan A, B, C, atau D.

Di sekolah mungkin ada guru yang mengoreksi jawaban.

Di kehidupan, sering kali tidak ada yang memberi tahu apakah keputusan kita benar.

Di pesantren ada pengasuh yang mengingatkan.

Di luar sana mungkin tidak ada seorang pun yang melihat.

Di situlah outcome pendidikan diuji.


Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Alumni kita kuliah di mana?"

Sesekali bertanyalah:

"Alumni kita menjadi siapa?"

Bukan hanya:

"Berapa yang masuk PTN?"

Tetapi:

"Berapa yang mampu hidup mandiri?"

Bukan hanya:

"Berapa yang mendapat pekerjaan bagus?"

Tetapi:

"Berapa yang bekerja dengan jujur?"

Bukan hanya:

"Berapa yang mendapatkan posisi tinggi?"

Tetapi:

"Berapa yang menggunakan posisi itu untuk mengangkat kehidupan orang lain?"

Bukan hanya:

"Berapa yang sukses?"

Tetapi:

"Ketika mereka sukses, siapa yang ikut merasakan manfaatnya?"


Di sinilah sebuah hadits yang sangat indah seharusnya menjadi cermin pendidikan kita:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Maka mungkin...

Outcome tertinggi pendidikan pesantren bukanlah sekadar keberhasilan pribadi. tetapi kebermanfaatan.

Bukan sekadar:

menjadi pintar,

tetapi menjadi manusia yang menggunakan kepintarannya untuk kebaikan.

Bukan sekadar:

menjadi kaya,

tetapi menjadi manusia yang kekayaannya menghadirkan manfaat.

Bukan sekadar:

menjadi pemimpin,

tetapi menjadi pemimpin yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Bukan sekadar:

mendapatkan jabatan,

tetapi mampu menjaga amanah ketika jabatan itu berada di tangannya.

Bukan sekadar:

berhasil keluar dari pesantren,

tetapi membawa ruh pesantren ke mana pun ia pergi.


Dan di sinilah kita kembali kepada Manhaj Tarbiyah.

TALQIN bukan sekadar memberikan pengetahuan.

TA'WID bukan sekadar membuat kebiasaan.

TAMRIN bukan sekadar memberikan latihan.

TAMKIN bukan sekadar membuat santri mampu.

Sebab semuanya akhirnya harus bermuara kepada:

MANHAJ AMAL.

Ilmu yang menjadi amal.

Nilai yang menjadi karakter.

Kebiasaan yang menjadi kesadaran.

Kemampuan yang menjadi pengabdian.

Dan keberhasilan pribadi yang berubah menjadi kemanfaatan sosial.


Maka barangkali kita perlu berhenti sejenak dari obsesi untuk selalu terlihat berhasil.

Tidak setiap keberhasilan harus terpampang di brosur.

Tidak setiap alumni harus masuk universitas terkenal agar pendidikan kita dianggap berhasil.

Tidak semua anak harus menjadi dokter, insinyur, akademisi, pejabat, atau profesional dengan jabatan tinggi.

Dunia membutuhkan banyak bentuk kebermanfaatan.

Yang kita butuhkan adalah manusia yang:

berilmu tanpa sombong,

berprestasi tanpa kehilangan adab,

berkuasa tanpa menindas,

kaya tanpa melupakan sesama,

sederhana tanpa minder,

dan berhasil tanpa lupa untuk mengabdi.

Sebab boleh jadi...

anak yang hari ini tidak masuk universitas yang kita banggakan,

justru suatu hari menjadi orang yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat.

Dan boleh jadi...

anak yang hari ini masuk universitas paling bergengsi,

justru gagal membawa nilai-nilai yang dahulu kita tanamkan.


Maka kepada seluruh keluarga besar Al Mujaddid:

guru, pengasuh, tenaga kependidikan, santri dan seluruh elemen yang terlibat dalam pendidikan:

Mari kita perluas kembali definisi keberhasilan.

Jangan hanya mengejar:

"Lulus."

Jangan hanya mengejar:

"Masuk PTN."

Jangan hanya mengejar:

"Masuk universitas ternama."

Tetapi kejarlah sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya:

"Menjadi manusia yang ketika ia hadir, kehidupan orang lain menjadi sedikit lebih baik."

Karena pada akhirnya...

kampus hanya menjadi tempat melanjutkan pendidikan.

Ijazah hanya menjadi bukti pernah belajar.

Jabatan hanya menjadi posisi sementara.

Prestasi hanya menjadi catatan sejarah.

Tetapi kemanfaatan akan terus hidup bahkan setelah nama kita tidak lagi disebut .


Renungan Hari Ini

Jangan hanya bertanya: "Lulusan kita kuliah di mana?"

Tanyakan pula: "Lulusan kita kelak bermanfaat bagi siapa?"

Karena keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang

seberapa tinggi seseorang dapat naik,

tetapi juga tentang

seberapa banyak orang yang dapat ia bantu ketika berada di atas.

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.


Hari ini, ketika kita berinteraksi dengan santri, jangan hanya melihat apa yang belum bisa mereka lakukan.

Lihat pula:

"Manfaat apa yang sedang kita bantu tumbuhkan dalam diri mereka?"

Sebab kita tidak sedang sekadar menyiapkan anak-anak untuk masuk ke sebuah universitas.

Kita sedang menyiapkan mereka untuk masuk ke dalam kehidupan.

Dan semoga ketika mereka masuk ke kehidupan itu, ada satu hal yang tetap mereka bawa:

إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ

"Sesungguhnya aku adalah hamba Allah."

Dan sebagai hamba Allah—

hidupnya bukan hanya untuk menjadi seseorang,

tetapi untuk menjadi seseorang yang mengabdi kepada Sang Pencipta, bermanfaat, berkhidmah kepada sesama makhlukNya.

bagus kan? ayo komen

0 Komentar