Sabang, 7 September 2026 — Pesantren Terpadu Al-Mujaddid kembali menjadi ruang perjumpaan lintas budaya melalui kunjungan mahasiswa dari Kiel University (Christian-Albrechts-Universität zu Kiel/CAU), Jerman. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program kunjungan belajar yang bertujuan untuk mengenal lebih dekat kebudayaan dan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya sistem pendidikan pesantren, proses pembelajaran, materi yang dipelajari, kehidupan para santri, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam lingkungan pesantren.
Rombongan yang terdiri atas 20 mahasiswa Jerman bersama dosen pendamping, Dr. Cosima Werner, memilih Pesantren Terpadu Al-Mujaddid sebagai salah satu tujuan untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai kehidupan pendidikan di pesantren. Kunjungan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para mahasiswa untuk berdialog dan bertukar wawasan dengan santri mengenai budaya, pendidikan, serta kehidupan sehari-hari di Indonesia dan Jerman.
Kiel University merupakan salah satu universitas bersejarah di Jerman yang didirikan pada tahun 1665. Universitas ini berada di Kota Kiel, negara bagian Schleswig-Holstein, Jerman bagian utara, di kawasan pesisir Laut Baltik. Kiel University dikenal sebagai universitas tertua di Schleswig-Holstein dan menjadi salah satu pusat pendidikan serta penelitian penting di Jerman.
Kegiatan kunjungan di Pesantren Terpadu Al-Mujaddid diawali dengan kata sambutan sebagai bentuk penyambutan kepada para tamu. Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni dan budaya dari para santri, di antaranya Tari Ranup, tari kontemporer, dan Rapai. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penyambutan, tetapi juga menjadi sarana bagi para santri untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Aceh kepada mahasiswa dari Jerman.
Setelah rangkaian penampilan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan sharing bersama para santri. Interaksi berlangsung dalam suasana terbuka, baik melalui forum resmi maupun percakapan secara langsung. Para mahasiswa dan santri saling bertukar cerita mengenai sistem pendidikan, kehidupan sehari-hari, budaya, kebiasaan, serta nilai-nilai yang berkembang di lingkungan masing-masing.
Salah seorang mahasiswa yang berkunjung, Vanessa, mengungkapkan bahwa kesan pertamanya ketika tiba di Al-Mujaddid adalah rasa diterima dan disambut dengan hangat. Ia melihat seluruh warga sekolah menyambut rombongan dengan ramah dan terbuka.
Vanessa juga menceritakan bahwa salah satu hal yang pertama kali menarik perhatiannya adalah nilai-nilai tradisional Islam yang diterapkan di lingkungan Al-Mujaddid. Sebagai seseorang yang berasal dari Jerman, ia melihat pemisahan antara laki-laki dan perempuan sebagai salah satu perbedaan budaya yang menarik karena cukup berbeda dengan kebiasaan yang ia kenal di negaranya.
Ketika ditanya mengenai pandangannya terhadap Al-Mujaddid, Vanessa memberikan tanggapan positif. Ia menilai bahwa Al-Mujaddid memiliki komunitas yang baik antara guru dan santri. Ia juga mengapresiasi para santri yang ditemuinya karena dinilai cerdas dan terbuka untuk berinteraksi serta berdiskusi mengenai budaya masing-masing.
Vanessa juga mengaku terkesan dengan tarian penyambutan tradisional dan berbagai penampilan santri yang ditampilkan selama kegiatan. Menurutnya, penampilan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang meninggalkan kesan tersendiri selama kunjungannya di Al-Mujaddid.
Menariknya, ketika ditanya mengenai kemungkinan kembali mengunjungi Al-Mujaddid di masa mendatang, Vanessa menyampaikan bahwa ia pasti akan kembali berkunjung. Ia bahkan mengungkapkan bahwa pengalaman kunjungannya tersebut membuatnya mempertimbangkan pertukaran budaya antara Indonesia dan Jerman sebagai salah satu topik tesis masternya, termasuk kemungkinan melibatkan sekolah-sekolah dalam penelitian tersebut. Dalam rencana itu, Al-Mujaddid menjadi salah satu tempat yang masuk dalam daftar utama untuk dikunjungi dan diajak bekerja sama.
Kunjungan mahasiswa Kiel University ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana pertukaran budaya, pendidikan, dan wawasan internasional. Para santri Al-Mujaddid memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari Jerman, sementara para tamu dapat melihat lebih dekat sistem pendidikan pesantren, kehidupan santri, nilai-nilai Islam, serta kekayaan budaya Aceh.
Melalui kegiatan tersebut, Pesantren Terpadu Al-Mujaddid terus mendorong para santri untuk memiliki wawasan yang luas, terbuka terhadap perbedaan budaya, percaya diri dalam berkomunikasi dengan masyarakat internasional, serta tetap bangga terhadap nilai-nilai Islam dan budaya lokal.


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
bagus kan? ayo komen
0 Komentar