Pesantren, Tempat Bekerja atau Tempat Berjuang? Tentang cara pandang yang menentukan kualitas pengabdian


 

Suatu hari seorang guru muda bertanya kepada guru senior:


"Ustaz, apa bedanya orang yang bekerja di pesantren dengan orang yang berjuang di pesantren?"


Guru senior itu tersenyum.


Lalu menunjuk dua orang yang sedang berjalan.


Yang pertama datang tepat ketika jam tugas dimulai.


Ia bekerja sesuai jadwal.


Melaksanakan tugas yang diminta.


Lalu pulang ketika tugas selesai.


Yang kedua juga melaksanakan tugasnya.


Tetapi ketika melihat ada masalah, ia ikut memikirkan solusinya.


Ketika melihat ada santri yang bermasalah, ia ikut membinanya.


Ketika melihat ada program yang belum berjalan, ia ikut membantu menjalankannya.


Padahal tidak ada yang memerintahkannya.


Tidak ada tambahan jabatan.


Tidak ada tambahan penghargaan.


Guru senior itu berkata:


"Keduanya sama-sama bekerja."


"Tetapi yang kedua sedang berjuang."



---


Bekerja dan Berjuang Tidak Selalu Sama


Bekerja biasanya dimulai dengan pertanyaan:


"Apa tugas saya?"


Sedangkan berjuang dimulai dengan pertanyaan:


"Apa yang dibutuhkan oleh perjuangan ini?"


Orang yang bekerja fokus pada amanah yang diberikan kepadanya.


Orang yang berjuang fokus pada tujuan besar yang sedang dibangun bersama.


Karena itu orang yang berjuang sering melihat hal-hal yang tidak tertulis dalam job description.


Ia melihat kebutuhan.


Ia melihat masalah.


Ia melihat peluang kebaikan.


Lalu bergerak.



---


Para Pendiri Pesantren Tidak Sedang Mencari Pekerjaan


Pesantren-pesantren besar tidak lahir karena sekelompok orang mencari pekerjaan.


Pesantren lahir karena ada orang-orang yang membawa cita-cita.


Mereka ingin membangun generasi.


Mereka ingin menjaga agama.


Mereka ingin menyiapkan kader umat.


Mereka ingin menghadirkan manfaat yang terus mengalir.


Karena itu yang mereka bangun bukan hanya lembaga.


Tetapi perjuangan.



---


Ketika Pesantren Dipandang Hanya Sebagai Tempat Bekerja


Maka yang muncul adalah pertanyaan:


"Ini tugas siapa?"


"Mengapa saya yang harus melakukannya?"


"Apakah ini masuk jobdesk saya?"


"Apakah ada honornya?"


"Apakah ada SK-nya?"


Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu.


Tetapi jika seluruh kehidupan pesantren hanya dibangun dengan cara pandang seperti itu, maka banyak hal besar tidak akan pernah lahir.


Karena sebagian besar perjuangan tidak pernah dimulai dari perintah.


Ia dimulai dari kepedulian.



---


Mengapa Guru Pesantren Dilibatkan dalam Banyak Hal?


Kadang ada yang bertanya:


"Mengapa guru pesantren tidak hanya mengajar?"


Karena pesantren tidak sedang membangun kelas.


Pesantren sedang membangun manusia.


Maka guru tidak hanya hadir di ruang belajar.


Tetapi juga dalam pembinaan.


Dalam bahasa.


Dalam organisasi.


Dalam asrama.


Dalam ibadah.


Dalam keteladanan.


Dalam kehidupan sehari-hari.


Karena pendidikan di pesantren tidak berhenti ketika bel pelajaran berbunyi.



---


Al-Mujaddid dan Jalan Perjuangan


Di Al-Mujaddid kita memiliki Panca Jiwa:


Keikhlasan.


Kesederhanaan.


Berdikari.


Ukhuwah Islamiyah.


Kebebasan.


Perhatikan baik-baik.


Tidak satu pun dari Panca Jiwa itu berbicara tentang kenyamanan.


Tidak satu pun berbicara tentang keuntungan pribadi.


Karena ruh pesantren memang dibangun di atas semangat perjuangan.


Bukan semata-mata semangat pekerjaan.



---


Bekerja Akan Membuat Kita Menunggu Perintah


Tetapi berjuang akan membuat kita mencari apa yang perlu dilakukan.


Bekerja membuat kita bertanya:


"Apa hak saya?"


Berjuang membuat kita bertanya:


"Apa kontribusi saya?"


Bekerja membuat kita menghitung waktu.


Berjuang membuat kita menghitung manfaat.


Bekerja membuat kita melihat tugas.


Berjuang membuat kita melihat cita-cita.



---


Bukan Berarti Mengabaikan Profesionalisme


Berjuang bukan berarti bekerja tanpa sistem.


Berjuang bukan berarti mengabaikan administrasi.


Berjuang bukan berarti mengabaikan hak-hak guru.


Justru perjuangan yang besar memerlukan profesionalisme yang tinggi.


Tetapi profesionalisme tanpa ruh perjuangan akan melahirkan pekerja.


Sedangkan profesionalisme yang disertai ruh perjuangan akan melahirkan pejuang pendidikan.



---


RENUNGAN HARI INI


Pagi ini mari kita bertanya kepada diri sendiri:


Mengapa saya berada di pesantren ini?


Apakah saya hanya menjalankan pekerjaan?


Ataukah saya sedang ikut membangun generasi?


Apakah saya hanya menyelesaikan tugas?


Ataukah saya sedang menanam amal jariyah?


Apakah saya hanya datang karena jadwal?


Ataukah saya hadir karena merasa memiliki perjuangan ini?


Karena sesungguhnya pesantren tidak membutuhkan orang yang hanya hadir secara fisik.


Pesantren membutuhkan orang-orang yang menghadirkan hati mereka dalam perjuangan.


Sebab gedung dibangun dengan dana.


Program dibangun dengan kerja.


Tetapi peradaban dibangun oleh orang-orang yang memiliki jiwa perjuangan.


Bekerja membuat seseorang menyelesaikan tugas.


Berjuang membuat seseorang melampaui tugas.


Dan pesantren besar selalu lahir dari orang-orang yang melihat dirinya bukan sekadar pekerja, tetapi bagian dari perjuangan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

bagus kan? ayo komen

0 Komentar