Rahmat yang Sudah Ada dan Rahmat yang Sedang Dipersiapkan Tentang melihat nikmat yang nyata dan menjaga harapan terhadap nikmat yang belum terlihat

 


Suatu pagi, seorang santri duduk di serambi masjid setelah selesai membaca Al-Qur'an.


Di tangannya terdapat mushaf yang baru saja ia pelajari bersama ustaznya.


Pandangannya tertuju pada dua tulisan yang hampir sama.


رَØ­ْÙ…َØ©ٌ


dan


رَØ­ْÙ…َتْ


Ia lalu bertanya kepada gurunya:


"Ustaz, mengapa dalam Al-Qur'an kadang ditulis رَØ­ْÙ…َØ©ٌ dan kadang رَØ­ْÙ…َتْ?"


Sang guru tersenyum.


Lalu beliau menjelaskan bahwa sebagian ulama melihat adanya isyarat yang sangat indah.


Ada rahmat yang sudah dekat.


Sudah hadir.


Sudah dapat dirasakan.


Dan ada rahmat yang masih disimpan Allah.


Masih berada dalam ilmu-Nya.


Belum tampak sekarang.


Tetapi sedang dipersiapkan.


Santri itu mengangguk.


Kemudian ia bertanya lagi:


"Kalau begitu, bagaimana dengan pesantren kita?"


Guru itu terdiam sejenak.


Lalu memandang ke arah halaman pesantren.


Di sana tampak para santri berjalan menuju kelas.


Ada yang membawa buku.


Ada yang sedang menyapu.


Ada yang sedang menghafal.


Ada yang sedang bercanda.


Guru itu tersenyum.


"Nak, pesantren kita juga hidup di antara dua rahmat itu."


"Sebagian rahmat sudah kita lihat."


"Sebagian lagi sedang Allah persiapkan."



---


Rahmat yang Sudah Kita Lihat


Hari ini kita sering sibuk melihat kekurangan.


Melihat apa yang belum berjalan.


Melihat apa yang belum sempurna.


Padahal jika kita berhenti sejenak dan melihat dengan hati yang jernih, kita akan menemukan begitu banyak rahmat yang telah Allah berikan kepada Almujaddid.


Masjid masih hidup.


Adzan masih berkumandang.


Al-Qur'an masih dibaca setiap hari.


Guru masih mengajar.


Santri masih belajar.


Orang tua masih mempercayakan anak-anak mereka.


Pesantren masih berdiri.


Bukankah semua itu rahmat?


Kadang kita terlalu dekat dengan nikmat sehingga tidak lagi merasakan besarnya nikmat tersebut.


Kita terbiasa melihat santri.


Sehingga lupa bahwa di banyak tempat, orang tua kesulitan mencari anak muda yang mau belajar agama.


Kita terbiasa melihat guru mengajar.


Sehingga lupa bahwa di banyak tempat, lembaga kekurangan orang yang mau mengabdikan dirinya.


Kita terbiasa mendengar lantunan Al-Qur'an.


Sehingga lupa bahwa ada tempat yang bahkan kehilangan suara itu.


Rahmat yang sudah ada sering kali tidak hilang.


Yang hilang adalah rasa syukur kita terhadapnya.



---


Rahmat yang Belum Terlihat


Namun ada hal yang lebih menarik.


Tidak semua rahmat Allah langsung tampak.


Ada yang sedang ditanam.


Ada yang sedang bertumbuh.


Ada yang sedang dipersiapkan.


Hari ini mungkin kita melihat seorang santri yang masih sering terlambat.


Masih sulit bangun Subuh.


Masih sering ditegur.


Masih jauh dari harapan.


Tetapi siapa yang tahu?


Mungkin beberapa tahun lagi dialah yang berdiri di mimbar memberi manfaat kepada masyarakat.


Hari ini mungkin ada santri yang nilainya biasa saja.


Tidak menonjol.


Tidak terkenal.


Tidak banyak mendapat penghargaan.


Tetapi bisa jadi kelak dialah yang paling bermanfaat bagi umat.


Karena pendidikan bukan pekerjaan menanam untuk panen sore hari.


Pendidikan adalah pekerjaan menanam pohon yang buahnya kadang baru dinikmati bertahun-tahun kemudian.


Sering kali kita terlalu ingin melihat hasil.


Padahal tugas kita adalah menjaga proses.



---


Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan Kegagalan


Kadang kita melihat suatu program belum berhasil.


Lalu kita menganggap usaha itu gagal.


Kita melihat budaya disiplin menurun.


Kita melihat sebagian santri kurang semangat.


Kita melihat pengurus yang belum maksimal.


Kita melihat guru yang mulai lelah.


Lalu kita merasa semuanya sedang memburuk.


Padahal belum tentu.


Bisa jadi Allah sedang menguji kesungguhan kita.


Karena tidak semua benih tumbuh pada waktu yang sama.


Tidak semua perubahan terjadi secepat yang kita inginkan.


Tidak semua hasil dapat segera dilihat.


Ada yang harus disiram dengan kesabaran.


Ada yang harus dijaga dengan keteladanan.


Ada yang harus dirawat dengan doa.


Dan ada yang harus diperjuangkan dengan istiqamah.



---


Masalah Terbesar Bukan Kekurangan Rahmat


Masalah terbesar sebuah lembaga sering kali bukan kurangnya rahmat Allah.


Tetapi kurangnya kemampuan melihat rahmat Allah.


Ketika kita hanya melihat kekurangan.


Kita kehilangan semangat.


Ketika kita hanya melihat masalah.


Kita kehilangan harapan.


Ketika kita hanya melihat kegagalan.


Kita lupa bahwa Allah masih memberikan begitu banyak nikmat yang lain.


Padahal orang yang mampu melihat rahmat Allah akan lebih kuat menghadapi ujian.


Karena ia tahu:


Apa yang sudah ada adalah alasan untuk bersyukur.


Dan apa yang belum ada adalah alasan untuk terus berjuang.



---


Al-Mujaddid Sedang Menanam Masa Depan


Hari ini mungkin kita belum melihat hasil dari semua usaha.


Belum melihat hasil dari semua rapat.


Belum melihat hasil dari semua pengawasan.


Belum melihat hasil dari semua nasihat.


Belum melihat hasil dari semua program.


Tetapi jangan lupa.


Setiap hafalan yang dibimbing.


Setiap kelas yang diajar.


Setiap santri yang dibangunkan untuk Subuh.


Setiap sampah yang dipungut.


Setiap amanah yang ditunaikan.


Setiap doa yang dipanjatkan.


Tidak ada yang sia-sia di sisi Allah.


Mungkin hari ini hanya terlihat sebagai pekerjaan kecil.


Tetapi di masa depan bisa menjadi sebab lahirnya generasi yang membawa perubahan.


Inilah rahmat yang sedang dipersiapkan.



---


Untuk Para Guru


Jangan lelah mengajar meskipun hasilnya belum terlihat.


Karena tidak semua pelajaran tumbuh pada hari yang sama.


Ada nasihat yang baru dipahami seorang murid sepuluh tahun kemudian.


Ada keteladanan yang baru disadari ketika ia telah dewasa.


Ada doa yang baru dijawab setelah bertahun-tahun.


Tugas kita bukan memastikan hasil.


Tugas kita adalah memastikan benih terus ditanam.



---


Untuk Para Pengurus dan Mudabbir


Jangan hanya melihat santri dari kesalahannya hari ini.


Lihatlah kemungkinan besar yang Allah simpan dalam dirinya.


Karena banyak orang hebat dahulu adalah anak-anak yang pernah merepotkan gurunya.


Yang membedakan mereka adalah adanya orang dewasa yang tidak berhenti percaya kepada mereka.



---


Untuk Para Santri


Jangan merasa kecil karena hari ini belum menjadi yang terbaik.


Teruslah belajar.


Teruslah memperbaiki diri.


Karena Allah tidak menilai siapa yang paling cepat.


Allah melihat siapa yang terus berjalan.



---


RENUNGAN HARI INI


Pagi ini mari kita bertanya kepada diri sendiri:


Apakah saya masih mampu melihat rahmat Allah yang sudah ada?


Apakah saya masih memiliki harapan terhadap rahmat Allah yang belum terlihat?


Apakah saya lebih banyak mengeluh daripada bersyukur?


Apakah saya lebih banyak menuntut hasil daripada memperbaiki proses?


Apakah saya masih yakin bahwa setiap kebaikan yang dilakukan hari ini sedang menanam masa depan?


Sebab sering kali kita ingin melihat buah.


Padahal Allah sedang meminta kita menjaga akar.


Dan sering kali kita ingin melihat hasil.


Padahal Allah sedang menguji kesabaran dalam proses.


Rahmat yang sudah ada adalah alasan untuk bersyukur.


Rahmat yang belum terlihat adalah alasan untuk tetap berharap.


Maka jangan hanya melihat apa yang belum berhasil.


Lihatlah juga apa yang sudah Allah anugerahkan.


Jangan hanya menghitung kekurangan.


Hitunglah juga nikmat yang masih bertahan.


Karena orang yang mampu melihat rahmat yang ada akan memiliki kekuatan untuk memperjuangkan rahmat yang belum tampak.


Dan bisa jadi, apa yang hari ini kita anggap biasa di Pesantren Terpadu Almujaddid, kelak akan menjadi sebab lahirnya generasi yang mengubah masyarakat.


"Rahmat yang terlihat melahirkan syukur."


"Rahmat yang belum terlihat melahirkan harapan."


Dan di antara syukur dan harapan itulah perjalanan sebuah pesantren terus dilanjutkan.

bagus kan? ayo komen

0 Komentar

Posting Komentar